| 08 December 2010
Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: "Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka."
-Matius 8:18-22
Berbicara tentang memilih, apa yang terlintas di dalam benak kita? Memilih menu makanan? Memilih antara belajar atau tidur? Memilih jurusan di perguruan tinggi? Memilih pasangan hidup?
Memilih selalu menjadi hal yang krusial bagi manusia. Kita mungkin pernah mengalami bagaimana rasanya pusing-tujuh-keliling bahkan hanya untuk memilih jawaban sesederhana ya atau tidak. Dan pernahkah Anda mendengar (atau mengucapkan) kata-kata seperti “Aku punya hak untuk memilih, ini hidupku, maka semua terserah padaku.”?
Kaum eksistensialis pun menekankan pilihan-pilihan manusia sebagai yang terpenting. Manusia memilih sebagai penyataan diri, bahwa ia ada. Tetapi bukan demikian yang Alkitab ajarkan.
Injil Matius 8:18-22 mengajarkan kepada kita bahwa mengikut Tuhan bukan bicara tentang kerajaan atau teritori fisik. Mengikut Tuhan berbicara tentang hati manusia yang menjadi sebuah ‘kerajaan’ baru di mana Allah bertakhta. Mengikut Tuhan berarti urusan kita bukan lagi dunia yang sedang binasa, yang menjadi urusan kita adalah ‘bisnis’ Kerajaan Allah. Fokus kita bukan lagi dunia, tetapi kehendak Allah.
Demikian pula dengan pilihan-pilihan yang kita buat. Berdasarkan apakah kita membuat pilihan dalam hidup kita? Kehendak Allah-kah? Atau justru kehendak saya? Memilih membangun kerajaan Allah-kah? Atau kerajaan diri dan keluarga sendiri?
Maka sesungguhnya kita harus kembali menyelidiki ke dalam hati kita. Siapakah yang sesungguhnya bertakhta atas hidup kita. Jikalau yang bertakhta adalah diri kita sendiri, kita harus bertobat dan menyeret diri itu turun dari sana. Hidup ini bukan milik kita. Hidup kita yang terhilang sudah dibeli kembali oleh darah Kristus yang tertumpah di kayu salib. Maka jikalau hidup ini adalah milik Kristus, Dia pulalah yang harus bertakhta atas hidup kita.
Lalu apakah kita, yang dimiliki oleh Kristus, boleh memilih? Apakah kita mempunyai pilihan? Jawabannya adalah: Ya. Kita mempunyai pilihan. Pilihan untuk memilih apa yang dipilihkan Allah bagi kita. Hanya itulah pilihan bagi orang yang sungguh-sungguh mau mengikut Tuhan. Yaitu memilih menjalankan kehendak Allah yang telah memilih kita untuk boleh memilih.
Dalam aplikasinya, bagaimanakah kita harus menentukan salah satu di antara begitu banyak pilihan yang ditawarkan? Bukankah hidup ini harus seimbang? Sekali lagi jawabannya adalah: Ya. Hidup ini harus seimbang. Tetapi seimbang bukan berarti sama rata. Jikalau seimbang itu berarti sama rata, lalu apakah berarti kalau kita telah beraktivitas selama 20 jam, kemudian kita juga harus tidur selama 20 jam dan mandi selama 20 jam pula? Tentu saja tidak. Seimbang bukanlah sama rata, seimbang berarti memiliki prioritas dan porsi. Yang menjadi respons kita harus sesuai dengan apa yang Allah kehendaki, tidak lebih dan tidak kurang.
Kiranya kita boleh rindu untuk memiliki hati yang berkehendak untuk menjalankan kehendak Allah. Dan jikalau Allah menyatakan kehendak-Nya atas kita, kiranya kita peka dan berani memilih untuk menaruhnya pada urutan pertama prioritas kita. Karena seperti sebuah kalimat terkenal yang dituliskan oleh John Calvin, “Tidak ada yang lebih besar daripada kehendak Allah selain Allah sendiri”.
Soli Deo Gloria.





Comments
Bicara soal pilihan, tdk lepas dr yg namanya sebuah keinginan. Bgmn kita dpt memutuskan suatu pilihan jika kita tdk memiliki keinginan utk menjalankan pilihan itu?
Now saya jg diperhadapkan dgn cukup banyak pilihan. Makanya saya klik link ini.hehe
Ada keraguan & kekhawatiran atas pilihan yg akn saya pilih, akn dampaknya di masa dpn nanti. Kalau mau mengeluh pd manusia maupun Tuhan, tentu bnyk alasan yg dpt dilontarkan
Tp bkn berarti mengeluh itu tdk baik, tapi justru krn momen inilah kita dapat mempelajari hal yg baik. Belajar untuk merenungkan Firman Tuhan, belajar untuk bergumul & berkomunikasi dgn Tuhan
Tujuannya apa? Jls utk mengetahui apa keinginan Allah dlm hidup kita masing-masing. Dan tgs kita apa? Tgs kita adlh berusaha semaksimal mgkn, reka-rekalah sepenuh hati akn kehidupan yg pnh dgn pilihan ini
"Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tp Tuhanlah yg menentukan arah langkahnya." Ams16:9
Tuhan sudah taruh tujuan dalam setiap hidup yang Dia cipta... Dan kalau kita adalah orang-orang yang diberi anugerah untuk menjadi orang percaya, tujuan hidup kita sudah jelas: To glorify God and to enjoy Him forever.
Tapi gimana caranya glorify and enjoy God? 1 poin yang kita harus lihat; Hidupi Firman Tuhan... Aku sedang dan akan terus belajar untuk hidupi Firman dalam keseharian, tidakkah kita 'enjoy' ketika dalam hidup kita, kita sadar bahwa kita sedang memperkenan Dia yang mencipta kita? Sepertinya indah sekali... Aku sih ingin punya hidup seperti itu... Kamu? =)
Untuk bisa hidupi tentunya harus terus belajar mengerti Firman^^
"God created us for Himself, thus our hearts are restless until they find rest in God" kata Augustine... ;)
aku juga bingung apa arti hidup di dunia ini? dan apa tujuan nya .....
perna bepikir rasa nya mending tak ada di dunia dr pd hrus ... krn " tak punya pilihan" hrus dengan cara apa supaya bs mengenal arti pilihan di kehidupan ku .....
RSS feed for comments to this post.